//
you're reading...
Uncategorized

sinopsis

Sinopsis Karya Sastra (Novel) “Semester Pertama di Mallory Towers”
Judul :Semester Pertama di Mallory Towers
Pengarang : Enyd Blyton
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2010
Latar Belakang :
Tempat : Di Sekolah
Waktu : Pagi Hari
Dimensi : 11 x 18 cm
Tebal : 239 halaman
Cover : Soft Cover
ISBN : 979-655-297-3
Tokoh Cerita :
Protagonis: – Darell
– Felicity
– Sally
– Irene
– Bill
– Gwen
– Mary Low
Antagonis: – Jo
Amanat : Kebersamaan akan membawa keberhasilan
Alur Cerita :
Biografi

Nama saya Ahmad Saepudin. Saya biasa dipanggil Ahmad. Saya lahir pada tanggal 4 Juli 1994. Saya anak terakhir dari 7 bersaudara, saya punya 3 orang kakak perempuan dan 2 orang kakak laki-laki.
Saya pernah bersekolah di SDN 1 Rancabungur pada tahun 2000 dan lulus pada tahun 2006. Kemudian melanjutkan ke SMPN 1 Rancabungur pada tahun 2006 dan lulus pada tahun 2009, kemudian melanjutkan ke SMK PGRI 1 Bogor pada tahun 2009 sampai sekarang. Sekarang saya kelas 11, jurusan Administrasi Perkantoran

Darrell telah menjadi ketua murid, tetapi tidak semua siswa mempunyai rasa tanggung jawab seperti dia. Di semester terakhirnya ini ia menyaksikan banyak sekali perubahan pada teman-temannya Gwen, misalnya, yang sering mengeluh dan berhati keji; atau Amanda, yang suka memamerkan keberhasilannya dalam olahraga; atau Jo, yang tak mengerti mana dan yang benar mana yang salah. Ada juga siswa-siswa cilik yang dengan cerdik mempermainkan Mam’zelle dengan muslihat besi berani mereka. Dalam semester terakhir Darrell ini banyak sekali peristiwa yang lucu dan dramatis.

“Semester terakhirku!” pikir Darrel, bersiap-siap turun ke tingkat bawah. “Terakhir!” ulang tahun berikut umurku akan delapan belas aku sudah dewasa!”
Suatu teriakan terdengar dari bawah. “Darrel? Kapan lagi kau turun? Ayah bertanya kau mau berangkat sekarang apa besok?”
“ Baik! Aku turun!” teriak Darrel. Disambarnya raket tenis dan tas kecilnya, kemudian bergegas turun melompati tangga dua-dua seperti biasanya.
“Ini terakhir kali aku pergi denganmu memakai seragam yang sama,” kata Darrel, agak sedih. “Semester depan kau harus pergi sendiri, Felicity. Bagaimana perasaanmu?”
“Sama sekali tak tenang,” sahut Felicity tetapi dengan nada riang. “Tapi kau kan akan bergembira, memulai kehidupanmu di universitas. Jangan begitu muram!” Berdua dengan Felicity ia keluar menuju mobil. Ayah mereka akan menekantombol klakson lagi.
“Syukurlah kalian muncul,” keluh Pak Rivers. “Masuklah. Mana Ibu kalian? Wah, keluarga ini betul-betul memerlukan gembala untuk menggiring semuanya seperti domba! Ah, itu dia.”
Saat Nyonya Rivers masuk ke mobil, Felicity menyelinap keluar. Pak Rivers tak melihat itu, ia menggerakan mobilnya. Darrel pun menjerit.
“Ayah! Ayah! Tunggu! Felicity belum naik!”
Pak Rivers berpaling heran. “Tapi tadi kulihat dia sudah masuk!” katanya. “Ya ampun! Ke mana dia?”
“Paling-paling lupa berpamitan pada anak-anak kucingnya,” kata Darrel menyeringai.
Felicity muncul lagi dan mendekat, melompat masuk ke dalam mobil, terengah-engah. “Lupa pamit pada tukang kebun,” katanya.
Ia tak henti-hentinya bercerita akan pergi ke Amerika dengan ayah-ibunya.

Di Malory Towers, ternyata tak seorang pun menegur anak-anak kelas dua itu. Anak-anak kelas enam sepakat bahwa mereka bisa tertawa begitu puas sehingga tak adil bila anak-anak kelas dua mereka belum dihukum. “tertawa itu sungguh lebih baik bagi kita, setelah seminggu memeras otak untuk ujian,” kata Darrell. “kasihan sekali Mam’zelle. Ia sudah pulih. Tetapi setiap kali anak-anka kelas dua itu mendesis di belakangnya, ia lari tunggang langgang.”
“Mereka itu lebih nakal dari kita dulu,” kata Alicia. “Dan aku tak kan pernah bisa memikirkan siasat sebagus itu”.

Di Malory Towers anak-anak mempunyai kamar sendiri-sendiri, satu kamar untuk berdua. Di sana mereka menyimpan lukisan mereka untuk dipajang di dinding mereka. Mereka juga mepunyai ruang santai.
Kemudian mereka melapor kepada Ibu Asrama bahwa mereka telah menyimpan barang-barang mereka sambil menyerahkan Surat Kesehatan.

Pelajaran baru dimulai sekarang mereka harus menyesuaikan diri dengan semester baru mereka. Hari itu mereka berenang. Di antara mereka ada yang takut berenang. Dia anak Perancis. Setiap kali kena air ia pasti menjerit.

Kolam selalu indah saat langit biru cerah. Darrell sangat mencintai kolam renang ini.
Darrell ingin semester terakhirnya berlangsung dengan lambat, begitu juga Sally.
“Aku ingin menikmati setiap saat dari semester ini,” kata Darrell.
“Kita akan teringat apa saja yang ingin kita inga,” kata Sally.
“Ya aku pikir aku ingin berlama-lama di sekolah ini hingga Ujian tiba,” kata Darrell.

Hari terakhir pun tiba, saat itu langit sangat cerah.
“Hari Terakhir kita!” kata Darrell. “Kau ingat tidak, Sally, hari pertama kita enam tahun lalu? Saat itu kita hanyalah anak kecil berusia dua belas tahun. Lebih kecil dari Felicity dan Jane. Alangkah cepatnya waktu berlalu.” Kata Sally.
“Ayo ke kolam renang, Sally,” ajak Darrell
Mereka menuruni telundakan di tebing dan berdiri di tepi kolam yang berkilauan, airnya selalu bergerak karena ombak yang selalu berdebur di karang-karang sekelilingnya. “Banyak sekali kenangan kita di sini,” kata Darrell.
Setelah puas berenang mereka siap-siap pulang ke rumah.
“Selamat jalan, Darrell! Jangan lupa menulis surat!” teriak Alicia. Sampai jumpa bulan Oktober di St. Andrews!”
Ia melangkah mundur dan terinjak olehnya kaki Mam’zelle. Oh, maaf, Mam’zelle!” katanya.
“Selalu kau menginjak kakiku,” kata Mam’zelle, tak benar.
Felicity mendatangi dengan membawa raketnya. “Selamat Tinggal, Mam’zele!” teriaknya. “Hati-hati liburan nanti, awas ada ular!”
“Ahhhh, anak nakal kau!” kata Mam’zelle. “Aku akan mendesius padamu.Sssssssssss!”
Ini membuat tercengang Nyonya Grayling yang kebetulan lewat di dekatnya dan terkena desisan maut Mam’zelle. Mam’zelle kebingungan melihat Ke[ala Sekolah tertegun memandangya. Gugup ia mengundurkan diri.
Darrell tertawa. “Ya ampun! Senang sekali melihat keributan akhir semester ini. Kita berangkat, Ayah? Selamat Tinggal, Nona Grayling, Selamat Tinggal Nyonya Potts, selamat tinggal, Mam’zelle… selamat tinggal Malory Towers!”
Dan selamat jalan untukmu Darrell … semoga selalu berhasil. Senang sekali dapat berkenalan denganmu. Selamat jalan!

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: